Kekuasaan dan Politik


Kekuasaan dan Politik

Kekuasaan adalah suatu bagian yang sudah menjiwa ke seluruh sendi kehidupan organisasi ataupun lingkungan setiap individu. Mabajer dan nonmanajer menggunakannya. Mereka memanipulasi kekuasaan untuk mencapai tujuan dan dalam kebanyakan hal untuk memperkuat kedudukan mereka. Keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam menggunakan atau bereaksi terhadap kekuasaan, sebagian besar ditentukan oleh pemahaman tentang kekuasaan, dengan mengetahui bagaimana dan bila menggunakannya, serta mampu mengantisipasi kemungkinan dampaknya.

KEKUASAAN DAN WEWENANG


Studi tentang kekuasaan dan dampaknya merupakan hal yang penting untuk memahami cara kerja organisasi. Memang mungkin mengartikan setiap interaksi dan hubungan sosial dalam suatu organisasi sebagai melibatkan penggunaan kekuasaan. Cara pengendalian subunit organisasi dan individu, berkaitan dengan isyu tentang kekuasaan. Secara sederhana kekuasaan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk memperoleh sesuatu sesuai dengan cara yang dikehendaki orang tersebut. Kekuasaan seorang manajer yang menginginkan peningkatan jumlah sumber keuangan adalah kemampuannya untuk memperoleh sumber daya yang diinginkan itu. Kekuasaan seorang wiraniaga (salesperson) yang menginginkan wilayah penjualannya diperluas adalah kemampuannya untuk memperoleh wilayah yang lebih luas itu.

Kekuasaan melibatkan hubungan antara dua orang atau lebih. Robert Dahl, seorang ahli ilmu politik menemukan pusat perhatian hubungan yang penting ini ketika ia mendefinisikan kekuasaan sebagai “A mempunyai kekuasaan atas B dalam pengertian bahwa ia dapat menggerakkan B melakukan sesuatu di mana B tidak ada pilihan lain kecuali melakukannya”. Seseorang atau kelompok tidak dapat mempunyai kerkuasaan dalam keadaan terisolasi; kekuasaan tersebut harus dilaksanakan atau mempunyai potensi untuk dilaksanakan dalam hubungan dengan kelompok lain atau kelompok.

Dalam dunia literatur terdapat perbedaan antara kekuasaan dan wewenang. Weber meminta perhatian terhadap perbedaan antara kedua konsep tersebut. Ia berpendapat bahwa kekuasaan melibatkan kekuatan dan paksaan. D lain pihak, wewenang adalah bagian dari kekuasaan yang cakupannya lebih sempit. Wewenang tidak menimbulkan implikasi kekuatan. Melainkan, wewenang melibatkan suatu “penangguhan kata putus (suspension of judgement) dari pihak penerimanya. Wewenang adalah kekuasaan formal yang dimiliki seseorang karena posisi yang ia pegang dalam organisasi. Arahan atau perintah dari seorang manajer dalam posisi yang berwewenang diikuti karena perintah tersebut harus dipatuhi. Dengan demikian, orang-orang pada posisi yang lebih tinggi mempunyai wewenang yang sah atas para bawahan yang posisinya lebih rendah. Dalam hirarki wewenang, pejabat eksekutif pusat berada di atas manajer distrik, yang membawahi para wiraniaga. Dewasa ini wewnang dianggap mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

1.    Wewenang ditanamkan dalam posisi seseorang. Seseorang mempunyai wewenang karena posisi yang ia duduki, bukan karena karakteristik pribadinya yang khusus.

2.    Wewenang tersebut diterima bawahan. Individu pada posisi wewenang yang sah melaksanakan wewenang dan dipatuhi karena ia mempunyai hak yang sah.

3.    Wewenang digunakan secara vertikal. Wewenang mengalir dari atas ke bawah dalam hirarki organisasi.

Kekuasaan legitimasi (Legitimate Power). Kekuasaan legitimasi ialah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi karena posisinya. Seseorang yang tingkatannya lebih tinggi mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang kedudukannya lebih rendah. Dalam teori, tingkat organisasi yang sederajat (misalnya semua penyelia ini pertama) mempunyai kekuasaan legitimasi yang sederajat. Akan tetapi, setiap orang yang mempunyai kekuasaan legitimasi menggunakan kekuasaan tersebut dengan bakat masing-masing. Kekuasaan legitimasi serupa dengan konsep Weber tentang wewenang.

Kekuasaan Imbalan (Reward Power). Jenis kekuasaan ini didasarkan atas kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada pengikutnya karena kepatuhan mereka. Kekuasaan imbalan digunakan untuk mendukung penggunaan kekuasaan legitimasi. Jika pengikut memandang imbalan atau kemungkinan imbalan yang dapat disediakan seseorang sebagai sesuatu yang bernilai (pengakuan, penugasan suatu pekerjaan, peningkatan upah, sumber tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan), mereka akan tanggap terhadap printah, permintaan, dan petunjuk.

Kekuasaan Paksaan (Coercive Power). Kebalikan dari kekuasaan imbalan ialah kekuasaan paksaan, yaitu kekuasaan untuk menghukum. Para pengikut mungkin patuh karena takut. Seorang manajer dapat menunda promosi atau memperolok seorang bawahan karena prestasinya. Praktek ini dan upaya menakut-nakuti yang akan mereka gunakan adalah kekuasaan paksaan. Meskipun hukuman mungkin mengakibatkan dampak sampingan yang tidak diharapkan (dibahas dalam Bab 6), hukuman adalah bentuk kekuasaan paksaan yang masih digunakan untuk memperoleh kepatuhan atau untuk memperbaiki perilaku yang tidak produktif dalam organisasi.

Kekuasaan Ahli (Expert Power). Seseorang mempunyai kekuasaan ahli juka ia memiliki keahlian khusus yang dinilai tinggi. Para ahli mempunyai kekuasaan meskipun peringkat mereka rendah. Seseorang dapat memiliki keahlian teknis, administratif, atau yang menyangkut persoalan manusia. Semakin sulit mencari pengganti ahli tersebut, semakin tinggi tingkatan kekuasaan ahli yang ia miliki.

Kekuasaan Referen (Referent Power). B anyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang karena gaya kepribadian atau perilaku orang tersebut. Karisma orang yang bersangkutan adalah basis kekuasaan referen. Seseorang yang berkarisma dikagumi karena karakteristiknya. Kekuatan karisma seseorang adalah petunjuk adanya kekuasaan referen orang itu. Karisma merupakan istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan para politisi, penghibur, atau olah ragawan. Akan tetapi, beberapa manajer dianggap sangat berkarisma oleh bawahan mereka.

KEBUTUHAN AKAN KEKUASAAN

Sepanjang sejarah, manusia selamanya terpesona oleh kekuasaan. Dalam kepustakaan Cina kuno, perhatian akan kekuasaan secara jelas dikemukakan – kekuasaan menjinakkan dari yang agung )the taming power of the great), kekuasaan cahaya (the power of light), kekuasaan kegelapan (the power of the dark). Tulisan terdahulu yang bersifat religius juga berisikan berbagai acuan kepada orang yang memiliki atau memperoleh kekuasaan. Catatan historis menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat sejauh mana orang-orang telah mengejar, menakuti, menikmati, atau menyalahgunakan kekuasaan. Sekarang, kesan tentang orang yang mencari kekuasaan pada umumnya dianggap cukup negatif, Misalnya, pencari kekuasaan digambarkan sebagai Pencari kekuasaan (power seeker) telah dijuluki sebagai lemah, sakit syaraf, dan mengganggu. Hal ini tentu saja mungkin benar bagi sebagian pencari kekuasaan (misalnya Adolf Hitler), tetapi menggolongkan semua pencari kekuasaan dalam kategori ini agaknya terlalu melebih-lebihkan dan terlalu umum.






Komentar

Posting Komentar